Sebaik baiknya manusia adalah mereka yang tak abai pada lingkungan sekitarnya. begitulah kiranya sepenggal kalimat yang sempat terlintas sesaat setelah membidik aktifitas tasimun ketika ia mengambil air dari sungai serayu.
Bukan menyoal Tasimun yang tak sanggup menggali sumur, atau memasang pipa paralon perusahaan air minum pemerintah itu. melainkan menyoal bagaimana kita memperlakukan lingkungan hidup kita. terutama air sungai. banyak di antara kita menjadi arogan, mengabaikan air yang ada di sungai dengan angapan tak mungkin di manfaatkan orang lai untuk memenuhi kehidupan. mungkin kita tak pernah melhatnya. sehingga bisa seenak jidat menaburkan sampah-sampah di bantarn sungai.
Mungkin gambaran ini hanya secuil ingatan yang saya bagikan dari bantaran kali serayu sehingga kita ingat apa yang dilakukan banya orang di tepian sungai. jaadi, berbijak bijaklah, lebih baik simpan sampahmu di kantong celanamu. ini juga menjadi ingatan bagiku.
Oleh : Syaqib Askar
Sudah dua bulan lamanya Sarmuni warga desa
Sempor, Gombong, Kebumen menanami jagung dan umbi umbian di wilayah waduk yang
mulai menyusut debit airnya. Hampir setiap hari menurut sarmuni wilayah waduk
airnya semakin menyusut, sehingga lahan garapan dibekas waduk yang mengering
semakin meluas.
Sarmurni hampir setiap hari turun kewaduk
menggarap lahan dadakanya. “Nggal ndinten mas, kit wulan ramadhan”
(setiap hari mas, dari bulan ramadhan)
kata Sarmuni.
Kejadian mengeringnya waduk ini menurut sarmuni baru terjadi lagi di tahun ini, di tahun
tahun sebelumnya waduk tersebut jarang mengalami penyusutan. “Biasanya airnya
sampai atas mas, dalem 3 meter kalo di tepian” tambah sarmuni
Memang, semenjak datangnya kemarau panjang, waduk sempor mengalami penyusutan debit air yang cukup drastis. Sisa air yang d tampung di waduk sekarang hanya sejumlah 20,9 juta meter kubik, dengan elevansi 54 meter.
Oleh karena itu, beberapa warga memilih untuk mengalih fungsikan lahan untuk sementara, dengan menanami tanaman yang sedikit menyerap air. Beberapa warga lainya memanfaatkan susutnya air untuk mencari ikan yang semakin menyempit habitanya. (4/Agustus/2015)
“Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan” Goenawan Mohamad (GM).
![]() |
| sourch by google |
Tak ada yang lebih bersyukur selain
mereka yang masih bisa melihat dunia dan seisinya. Merekam jejak peristiwa,
membiaskan cahaya menjadi warna dan rupa, menelaah goresan pena, serta memahami
tanda dan petanda dengan mata. Begitu GM menyebutnya sebagai rahmat, atau dalam
bahasa lain, kita masih melek, memfungsikan Indra mata.
Mata mampu membaca, sedang kemampuan
membaca, memang tak semua orang memiliknya. Beberapa orang di masyarakat, tak
bisa memahami dan membedakan antara satu huruf dengan huruf lainya, hingga masa
tua. Bahkan, seorang buta susah payah mengganti mata dengan raba.
Lalu, mengapa Ia menyebut kegemaran
membaca sebagai sebuah kebahagiaan? Ada peribahasa cina yang mengatakan ‘di
dalam buku terdapat rumah-rumah dari emas’. Artinya, saat kita membaca sebuah
buku, kita meletakan emas-emas dan mengabadikanya didalam kepala. Suatu waktu,
emas-emas yang tertimbun didalam otak, bisa menjelma nyata. Sebab buku, adalah
akal-akal yang hidup, begitu kata Gilbert White, seorang fisikawan asal Inggris.
Buku, dan bahan bacaan lain, memang
bisa diakses oleh siapapun, dimanapun. Akan tetapi, Universitas menjadi
institusi yang begitu dekat dengan buku dan bacaan. Begitu dekat. Didalamnya
subjek-subjek yang bergerak tak pernah bisa lepas dari buku dan bacaan. bahkan
setiap aktifitas tak serta merta lahir tanpa dasar. Melainkan selalu memijakan
pada referensi-referensi yang ada. Sumber bacaan.
Namun, Beberapa minggu lalu, salah
satu lembaga kajian riset dan kajian ilmiah yang berada di FISIP, Rhizome,
mempresentasikan sebuah penelitian. Tentang minat dan kesadaran mahasiswa dalam
membaca. Dari sample mahasiswa yang
dipilih, 92% diantaranya sadar akan betapa pentingnya membaca sebagai kebutuhan. Akan tetapi dalam keseharian, 52% membaca 3-4
jam dalam kurun waktu satu minggu, khusus Buku.
Sedang bacaan lain dengan akses
internet tak jauh berbeda. Sebuah jurnal ilmah yang di publikasikan oleh
mahasiswa USU (Universitas Sumatra Utara) menunjukan bahwa 41% mahasiswa lebih
senang mengakses media sosial, 27% wacana keilmuan dan informasi, 18% berita,
dan sisanya diisi oleh Game.
Budaya Yang Kian Luntur
Mustinya kita sadar, jika hal ini
(membaca) tak hanya terdorong karena keinginan dan kebutuhan pribadi belaka.
Akan tetapi, lingkungan sekitar juga menjadi problematika yang memojokan hasrat
dan kebutuhan untuk enggan membaca. Sadar benar, jika budaya adalah hal yang
diciptakan menjadi kebiasaan berlarut-larut, sehingga rentan bergeser, bahkan
pudar dan hilang.
Tak Jauh dari hari ini, 2009 lalu,
masih sering terlihat beberapa orang menenteng buku-buku bacaan. Membaca
dimanapun tempat. Serta mendiskusikanya menjadi obrolan hangat. Pada akhirnya
tercipta ide-ide kreatif yang berpondasi kokoh.
Intiplah hari ini, kita jarang sekali
menyaksikan orang yang asik membaca buku disembarang tempat. Rhizome juga
mencatat dalam penelitian mereka yang sama, jika 34% mahasiswa saja yang
membaca buku ditempat-tempat umum. Obrolan pun semakin menjauh dari dunia
bacaan, keilmuan. Proses kreatif, menjadi kosong, hanya bertendensi pada
eksistensi belaka.
Sistem dan Sarana yang Ajeg
Tak hanya lingkungan sekitar
mahasiswa, sistem persebaran informasi, dan penyediaan layanan bacaan didalam
institusi pun tak begitu mendukung. Dari tahun - ketahun, tak ada yang berubah,
sistem informasi dan penyedia layanan bacaan atau perpustakaan masih tetap sama.
Diam ditempat. Seolah menjadi bagian yang tak andil dalam memberi stimulan bagi
orang-orang untuk membaca.
Buku-buku perpustakan pun tak begitu
update, padahal ilmu pengetahuan secara global bergerak cepat. Jika saja ada beberapa
bacaan yang baru, informasi-informasi tak disebarluaskan oleh penyedia layanan.
Hal ini, banyak dikeluhkan oleh mahasiswa, bahkan dosen. Beberapa jurusan, ada
yang swadaya membangun perpustakaanya sendiri, dengan dana patungan dosen.
Jika begini, Apakah hari ini membaca
hanya menjadi perihal sepele yang pantas diabaikan? Lalu kita terbiasa menerima
ilmu yang hanya seujung kuku dari ruang kuliah saja, dan Kita menjadi
manusia-manusia praktis tanpa pijakan kuat. Mungkin, sudah waktunya membaca
hanya menjadi angan, dan perenungan sebelum kita terbenam diatas ranjang.
[9|IX]









