November 2014 lalu, seekor Bayi orang Utan dilahirkan di Taman Rekreasi Marga Satwa Serulingmas Banjarnegara, Jawa Tengah. Ia Lahir dari rahim Orang Utan Sumatra bernama Tuti, dengan Pejantan bernama Parno Orang Utan asal Kalimantan. Bayi tersebut dinamai Noval, oleh Suranto (35) si perawat primate di kebun binatang tersebut. “Karena Lahir di Bulan November jadi pas nama Noval” Tutur Suranto.

Suranto memang sudah lama bergelut merawat primata. Sejak duduk di bangku kelas 2 sekolah menengah pertama, suranto sudah gemar merawat primata. Kegemaranya tersebut berlangsung sampai sekarang. Sehingga Ia hafal benar dengan karakteristik primate, tak terkecuali orang utan. Oleh sebab itu Ia bisa membantu melancarkan persalinan Noval si bayi orang utan.

Sebelumnya Ia pernah meninggalkan kebun binatang tersebut dan mengabaikan primate di sana. Namun setahun setelah ia tinggalkan, dua ekor bayi primate jenis orang uran gagal di besarkan oleh induknya. “Induknya tak tahu bagaimana merawat anak, dan tidak di berikan susu” kenang Anto, saat bercerita meninggalkan primate. Mendengar cerita tersebut, lelaki yang kerap disapa anto ini, tak tega dan kembali lagi mengabdi untuk merawat primate.

Oleh sebab itu dua kali persalinan terakhir orang utan yang ada di kebun binatang Serulingmas, Ia yang merawat.  Anto berinisiatif untuk membesarkannya di rumah. Sebab menurut Anto jika di besarkan langsung di kebun binatang, akan mudah terjangkit penyakit. “Bayi umumnya kan masih rentan” kata Anto. Selain itu, Ia juga menilai, jika memang belum ada perlengkapan yang mumpuni di kebun binatang tersebut untuk membesarkan anakan Binatang. Sehingga mau tak mau harus di bawa pulang.

 Ia pun di dukung oleh keluarganya, mulai Istri, anak dan Ibunya. “mereka dukung karena ini usaha untuk melestarikan” kata anto.

Kini bayi orang utan tersebut, sudah berusia 13 Bulan. Anto pun mengembalikannya ke kebun binatang untuk  lanjut di besarkan di sana. Ada beberapa tahapan yang anto jalani dalam merawat anakan orang utan ini. Di Sembilan bulan pertama Bayi orang utan tersebut di perlakukan selayaknya anak di dalam rumah. Dari dimandikan hingga di beri penghanat badan.

Di tiga bulan terakhir, anto melakukan pembiasaan anakan bayi tersebut untuk hidup dikandang kebun binatang. Sehingga bayi tersebut bisa beradaptasi dengan suhu yang ada di sana. “membiasakan habitat baru di tahapan terakhirnya” kata anto.




Luna Si Kuda Pustaka dan Ridwan Sururi (42), sudah tiga tahun lebih lamanya berjalan keliling desa tiap tiga hari dalam seminggu. Bukan untuk mengawasi desa Ridwan berkuda. Melainkan Ia bersama Luna, membopong tong berisikan buku-buku. Buku-buku tersebut ia sebarkan kepada warga desa Serang, Purbalingga, Jawa Tengah untuk dibaca.

Ridwan, dengan perpustakaan berjalanya itu, menjadi pencerah yang datang di tengah minimnya akses buku didesa. Awalnya banyak masyarakat yang menggunjing Ridwan. Namun ia tak patah arang Kuda Pustaka terus berjalan. Ia selalu berharap, agar anak-anak di desanya menjadi anak yang cerdas dan berguna dengan membaca.

Biasanya, Ridwan mangkal di salah kebun stroberi desa serang, tempat wisata. Disana ia meminjamkan buku kepada masyarakat, dari pedagang hingga anak-anak. Selain itu, ia juga mengunjungi madrasah setiap sore hari. Sekolah didekat rumahnya pun tak terlewatkan untuk rute yang dilewati Kuda Pustaka

Buku-buku bacaanya sederhana, mulai dari dongeng anak hingga majalah pertanian. Koleksi bukunya pun didapat dari sumbangan orang perorang, hingga menumpuk menjadi perpustakaan besar di rumahnya. Riiwan Hanya seorang perawat Kuda, namun semangatnya Untuk mencerahkan anak bangsa tak pernah surut.


************************************************************************



Foto-foto dan ceritaku ini pernah di muat di :


       Media Massa Jerman :   http://www.ohwow.de/?p=19904


Media Massa China  :  http://slide.sports.sina.com.cn/o_e/slide_2_73198_92740.html#p=5






















Di sorot matamu yang nanar
Aku titipkan doa, juga dosa
Sesaat sebelum semuanya jadi bencana


Peluru bersarang di tengkorakmu
Kita sejenak saling menatap, bisu
Cahaya mengambilmu

Aku bertanya
Kau diam
Matamu tetap nanar
Penuh dendam

Diam
Sepi
Angin sepoi

Cerita itu berlalu tanpa saksi
Kau mati di geger-geger merah tahun itu
Dalam diam

Disisakan untuku kutukan
Juga pasung ketidakwarasan

Kau kawanku
Aku mengambilmu
Dan kau mengutuku.


(Ambarawa :2013 : Catattan dari kepala seorang yang mengalami trauma berat)
Daun jatuh di antararekah tanah




Yang tersisa itu luka,
kian membatu, jadi dendam
menuntut harus di tebus!

yang, tersisa itu ingatan menyakiti,
tak merasa bersalah,
lalu melukai lagi,
Terus!
menuntut untuk ditebus!


berputar, tak kunjung damai
Tak ada rekonsiliasi,
Saling mencaci, menjadi-jadi
Cerita-cerita diplintir sana-sini
Berdarah-darah lagi.
Semua sama, Menuntut untuk ditebus!


Sisa-sisa dari konflik, hanya luka,
yang menuntut untuk terus diTebus!
Tak ada damai, hanya dendam yang diwariskan!
Seorang lelaki memasuki gedung tua di salah satu wilayah kota tua jakarta




Suka
                Suka
                                 Suka
                                                   Suka
                                 Suka
                 Suka
Suka
                    Luka
          Suka
                               Luka
                     Suka
          Luka
Luka
                      Luka
Luka
                                   Suka
              Luka
Suka
                Duka
                                     Suka
 Luka
                  Luka
                                     Luka
                  Luka                         Luka
                                      Luka
                  Luka
Luka                                      
              Duka
                            Duka
                                           Suka
              Suka                                Luka
                           Luka                                 Duka
                                         Daku                               Duka
                                                                                                                      





Ada detak jantung yang gagal ku pahami.
Semenjak sore itu,
Saat mulai mengamatimu jadi candu.

Degubnya kencang, dan pelan di waktu bersamaan.

Iya, saat itu kau terlihat lucu
Dengan jacket biru, dan ikal rambutmu yang terburai

Juga sapamu itu,
Selalu saja membuatku gagap bersikap.

ah, degub jantung ini.
kian tak tenang.
tak bisa di ajak berkompromi, apa lagi berdiplomasi
biar kusimpan sendiri, kukantongi, tanpa kubagi.




Arak-arakan perahu hias yang mengarungi sungai serayu banyumas, mereka menempuh 12 kilometer dalam rangkaian Festifal Serayu Banyumas (25/10/2015) 

Arak-arakan perahu hias yang mengarungi sungai serayu banyumas, mereka menempuh 12 kilometer dalam rangkaian Festifal Serayu Banyumas (25/10/2015)

     Sebaik baiknya manusia adalah mereka yang tak abai pada lingkungan sekitarnya. begitulah kiranya sepenggal kalimat yang sempat terlintas sesaat setelah membidik aktifitas tasimun ketika ia mengambil air dari sungai serayu. 

      Bukan menyoal Tasimun yang tak sanggup menggali sumur, atau memasang pipa paralon perusahaan air minum pemerintah itu. melainkan menyoal bagaimana kita memperlakukan lingkungan hidup kita. terutama air sungai. banyak di antara kita menjadi arogan, mengabaikan air yang ada di sungai dengan angapan tak mungkin di manfaatkan orang lai untuk memenuhi kehidupan. mungkin kita tak pernah melhatnya. sehingga bisa seenak jidat menaburkan sampah-sampah di bantarn sungai. 

       Mungkin gambaran ini hanya secuil ingatan yang saya bagikan dari bantaran kali serayu sehingga kita ingat apa yang dilakukan banya orang di tepian sungai. jaadi, berbijak bijaklah, lebih baik simpan sampahmu di kantong celanamu. ini juga menjadi ingatan bagiku.
Oleh : Syaqib Askar



Sudah dua bulan lamanya Sarmuni warga desa Sempor, Gombong, Kebumen menanami jagung dan umbi umbian di wilayah waduk yang mulai menyusut debit airnya. Hampir setiap hari menurut sarmuni wilayah waduk airnya semakin menyusut, sehingga lahan garapan dibekas waduk yang mengering semakin meluas.


Sarmurni hampir setiap hari turun kewaduk menggarap lahan dadakanya.  “Nggal ndinten mas, kit wulan ramadhan” (setiap hari mas, dari bulan ramadhan)  kata Sarmuni.

Kejadian mengeringnya waduk ini menurut sarmuni  baru terjadi lagi di tahun ini, di tahun tahun sebelumnya waduk tersebut jarang mengalami penyusutan. “Biasanya airnya sampai atas mas, dalem 3 meter kalo di tepian” tambah sarmuni
Memang, semenjak datangnya kemarau panjang, waduk sempor mengalami penyusutan debit air yang cukup drastis. Sisa air yang d tampung di waduk sekarang hanya sejumlah 20,9 juta meter kubik, dengan elevansi  54 meter.



Oleh karena itu, beberapa warga memilih untuk mengalih fungsikan lahan untuk sementara, dengan menanami tanaman yang sedikit menyerap air. Beberapa warga lainya memanfaatkan susutnya air untuk mencari ikan yang semakin menyempit habitanya. (4/Agustus/2015)


“Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan” Goenawan Mohamad (GM).


sourch by google
Tak ada yang lebih bersyukur selain mereka yang masih bisa melihat dunia dan seisinya. Merekam jejak peristiwa, membiaskan cahaya menjadi warna dan rupa, menelaah goresan pena, serta memahami tanda dan petanda dengan mata. Begitu GM menyebutnya sebagai rahmat, atau dalam bahasa lain, kita masih melek, memfungsikan Indra mata.
Mata mampu membaca, sedang kemampuan membaca, memang tak semua orang memiliknya. Beberapa orang di masyarakat, tak bisa memahami dan membedakan antara satu huruf dengan huruf lainya, hingga masa tua. Bahkan, seorang buta susah payah mengganti mata dengan raba.
Lalu, mengapa Ia menyebut kegemaran membaca sebagai sebuah kebahagiaan? Ada peribahasa cina yang mengatakan ‘di dalam buku terdapat rumah-rumah dari emas’. Artinya, saat kita membaca sebuah buku, kita meletakan emas-emas dan mengabadikanya didalam kepala. Suatu waktu, emas-emas yang tertimbun didalam otak, bisa menjelma nyata. Sebab buku, adalah akal-akal yang hidup, begitu kata Gilbert White, seorang  fisikawan asal Inggris.
Buku, dan bahan bacaan lain, memang bisa diakses oleh siapapun, dimanapun. Akan tetapi, Universitas menjadi institusi yang begitu dekat dengan buku dan bacaan. Begitu dekat. Didalamnya subjek-subjek yang bergerak tak pernah bisa lepas dari buku dan bacaan. bahkan setiap aktifitas tak serta merta lahir tanpa dasar. Melainkan selalu memijakan pada referensi-referensi yang ada. Sumber bacaan.
Namun, Beberapa minggu lalu, salah satu lembaga kajian riset dan kajian ilmiah yang berada di FISIP, Rhizome, mempresentasikan sebuah penelitian. Tentang minat dan kesadaran mahasiswa dalam membaca. Dari sample mahasiswa yang dipilih, 92% diantaranya sadar akan betapa pentingnya membaca sebagai kebutuhan.  Akan tetapi dalam keseharian, 52% membaca 3-4 jam dalam kurun waktu satu minggu, khusus Buku.
Sedang bacaan lain dengan akses internet tak jauh berbeda. Sebuah jurnal ilmah yang di publikasikan oleh mahasiswa USU (Universitas Sumatra Utara) menunjukan bahwa 41% mahasiswa lebih senang mengakses media sosial, 27% wacana keilmuan dan informasi, 18% berita, dan sisanya diisi oleh Game.

Budaya Yang Kian Luntur
Mustinya kita sadar, jika hal ini (membaca) tak hanya terdorong karena keinginan dan kebutuhan pribadi belaka. Akan tetapi, lingkungan sekitar juga menjadi problematika yang memojokan hasrat dan kebutuhan untuk enggan membaca. Sadar benar, jika budaya adalah hal yang diciptakan menjadi kebiasaan berlarut-larut, sehingga rentan bergeser, bahkan pudar dan hilang.
Tak Jauh dari hari ini, 2009 lalu, masih sering terlihat beberapa orang menenteng buku-buku bacaan. Membaca dimanapun tempat. Serta mendiskusikanya menjadi obrolan hangat. Pada akhirnya tercipta ide-ide kreatif yang berpondasi kokoh.
Intiplah hari ini, kita jarang sekali menyaksikan orang yang asik membaca buku disembarang tempat. Rhizome juga mencatat dalam penelitian mereka yang sama, jika 34% mahasiswa saja yang membaca buku ditempat-tempat umum. Obrolan pun semakin menjauh dari dunia bacaan, keilmuan. Proses kreatif, menjadi kosong, hanya bertendensi pada eksistensi belaka.

Sistem dan Sarana yang Ajeg
Tak hanya lingkungan sekitar mahasiswa, sistem persebaran informasi, dan penyediaan layanan bacaan didalam institusi pun tak begitu mendukung. Dari tahun - ketahun, tak ada yang berubah, sistem informasi dan penyedia layanan bacaan atau perpustakaan masih tetap sama. Diam ditempat. Seolah menjadi bagian yang tak andil dalam memberi stimulan bagi orang-orang untuk membaca.
Buku-buku perpustakan pun tak begitu update, padahal ilmu pengetahuan secara global bergerak cepat. Jika saja ada beberapa bacaan yang baru, informasi-informasi tak disebarluaskan oleh penyedia layanan. Hal ini, banyak dikeluhkan oleh mahasiswa, bahkan dosen. Beberapa jurusan, ada yang swadaya membangun perpustakaanya sendiri, dengan dana patungan dosen.
Jika begini, Apakah hari ini membaca hanya menjadi perihal sepele yang pantas diabaikan? Lalu kita terbiasa menerima ilmu yang hanya seujung kuku dari ruang kuliah saja, dan Kita menjadi manusia-manusia praktis tanpa pijakan kuat. Mungkin, sudah waktunya membaca hanya menjadi angan, dan perenungan sebelum kita terbenam diatas ranjang. [9|IX]

Istilah ‘Hegemoni’ pertama kali diperkenalkan oleh Antonio Gramsci (1997). Salah satu teori yang lahir dari rahim ‘Mazhab Frankfurt’. Pembahasan teori ini mencerminkan Minat pada industry kebudayaan yang memperhatikan konsep “superstruktur”,ketimbang basis ekonomi.
Hegemoni merupakan konsep dominasi atau penanaman kerangka berfikir, atau ideology oleh kelas – kelas dominan terhadap kelas yang lemah, atau subordinat. Proses pemaksaan ini dimasukkan melalui budaya yang secara sadar dan dapat meresap. Serta, Hegemoni berperan dalam menginterpretasikan pengalaman tentang kenyataan. Proses interpretasi itu berlangsung secara tersembunyi tapi terjadi secara terus – menerus.
Bisa dikatakan jika Gramsci berpandangan bahwa kelompok-kelompok subordinat menerima gagasan – gagasan, nilai – nilai, maupun tunduk dibawah kepemimpinan kelompok dominan bukan disebabkan secara fisik atau mental mereka dibujuk untuk melakukannya. Juga bukan disebabkan mereka diindoktrinasi secara ideologis. melainkan karena mereka punya alasan- alasan tersendiri.
Menurut Gramsci, hegemoni diamankan, misalnya, karena konsesi dibuat oleh kelompok dominan terhadap kelompok subordinat. Kebudayaan yang dibangun dengan hegemoni akan mengekspresikan keseolah – olahan. Dimana kepentingan yang mendominasi seolah menjadi kebutuhan kepentingan kelompok – kelompok subordinat.
Media massa sendiri memiliki andil dari perananya dalam mentransformasikan dan menyuguhkan nilai-nilai tertentu kepada masyarakat.  Sebab secara fugsinya media memang digunakan untuk memberikan gambaran lain tentang wajah masyarakat, ataupun dunia, disekitar kita. Baik berkaitan dengan kehidupan sosial, hingga politik.  Media menjadi perangkat yang efektif untuk menggiring opini khalayak terhadap suatu hal, bahkan untuk memberikan sebuah stereotype pada hal-hal tertentu.
seperti halnya Iklan melalui melalui tayangan televisi hari ini. Iklan sering dimunculkan secara berulang-ulang dengan frekuensi dan intensitas yang teratur. Proses pengulangan dan penerimaan secara teratur ini akan menimbulkan sebuah kesadaran palsu. Disaat orang –orang mengamini apa yang dikatakan iklan, pemahaman berubah menjadi searah, pemahaman searah yang sesuai dengan arahan (Ideology) iklan tersebut.
Sehingga menjadi kewajaran dimasyarakat akan budaya yang telah dibawa Iklan. Orang secara tidak sadar mengkonsumsi apa yang di tawarkan iklan, mempraktikan tindakan tindakan dalam iklan. Semisal, anggapan bahwa perempuan berkulit putih itu cantik, selain itu tidak. Anggapan ini secara tidak langsung memaksa orang untuk berlomba lomba menjadi putih. Padahal tak setiap orang memiliki warna dasar kulit (pigmen) yang putih. Hal ini tidak saja berimbas pada perempuan saja, laki-laki juga serupa.
Atau bisa dalam konteks lain sebagai contohnya, para elite dunia hari ini sedang memperbincangkan politik sebuah negara di eropa yang dilanda kebangkrutan, colapse secara ekonomi. Sedangkan orang pada umumnya disodorkan dengan tayangan-tayangan sinetron percintaan yang acuh terhadap hal tersebut. Atau disajikan berita-berita yang tak ada kaitanya dengan persoalan tersebut. Bahkan dikatakan menutupi nya.
Hegemoni diterima dan berfungsi karena, dalam pengertian umum, didirikan atas jaminan konsesi  atas kelompok subordinat yang tidak memberikan ancaman terhadap kerangka dominasi secara keseluruhan. Juga perangkat perangkat yang mudah membangun pandangan umum.
Pemahaman terkait Teori Hegemoni ini yang akhirnya memproduksi dan mereproduksi kebudayaan yang diatur, tidak spontan, tereifikasi dan palsu. ketimbang suatu budaya atau hal yang riil.


Daftar Pustaka

Mc.Quail, Denis. 1987. Teori Komunikasi Masa. Erlangga Jakarta
Ritzer, George. 2010. Teori sosiologi : Dari teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial  Postmodern. Kreasi Wacana, Yogyakarta.
Sim, Stuart dan Van Loon, Borin. 2008. Memahami Teori Kritis. Resist Book. Yogyakarta

Strinati, Dominic. 2009. Popular Culture : Pengantar Menuju Budaya Populer. Ar-RuzzMedia. Yogyakarta.

Aku,

kamu,

tetap sehebat biasa

sehebat waktu ....... (Sebelum kita bertemu)

dan akan lebih hebat. : )

Purwokerto, 2 Juni 2013

Kau pernah tinggal dikotaku,

              dan Aku pernah datang kekotamu.

   Jika nanti aku datang lagi kekotamu,

Aku ingin berburu.



"Apa yang kan kau buru?" itu pasti tanyamu.


Aku jawab 'MASA LALU'
        Saat kau dan aku berdua,
             Bersama, membunuh waktu.


(Purwokerto - 20/05/13 - V )





George Gerbner adalah orang yang pertama kali dianggap sebagai pencetus teori kultivasi. Ia dan rekan-rekanya menggagas teori ini pada tahun 1969. Ide ini Ia tuangkan dalam sebuah artikel yang berjudul the televition World of Violence. Artikel tersebut merupakan tulisan dalam buku bertajuk Mass Media and Violence yang disunting D. Lange, R. Baker dan S. Ball.
Menurut Signorielli dan Morgan (1990 dalam Griffin, 2004) analisis kultivasi merupakan tahap lanjutan dari paradigma penelitian tentang efek media, yang sebelumnya dilakukan oleh Goerge Gerbner yaitu “cultural indicator” yang menyelidiki proses institusional dalam produksi isi media, image (kesan) isi media, dan hubungan antara terpaan pesan televisi dengan keyakinan dan perilaku khalayak.
Di awal perkembangannya, teori ini lebih memfokuskan kajiannya pada studi televisi dan audience, khususnya pada tema-tema kekerasan di televisi. Tetapi dalam perkembangannya, ia juga digunakan untuk kajian di luar tema kekerasan. Misalnya seorang mahasiswa Amerika di sebuah universitas pernah mengadakan pengamata tentang para pecandu opera sabun (heavy soap opera). Mereka lebih memungkinkan melakukan affairs (menyeleweng), bercerai dan menggugurkan kandungan dari pada mereka yang bukan termasuk kecanduan opera sabun (Dominick, 1990)
Akan tetapi, toeri ini pada massa itu masih menjadi sebuah perdebatan besar antara beberapa kelompok yang mengkaji media massa, khususnya televisi. Kelompok pertama yang memiliki asumsi bahwa efek media bersifat kumulatif dengan kelompok yang memiliki anggapan jika efek media ini bersifat individual. Juga kelompok perdebatan lain, kelompok yang percaya jika media massa memiliki afek yang kuat (Powerful efect model) dan kelompok yang percaya akan keterbatasan akan efek media (Limited efect model). Teori ini lahir dalam pedebatan besar para ilmuan komunikasi tersebut.
Kemudian, Gerbner dan rekan-rekanya, melalui Cultivation Analysis, mencoba  memastikan adanya dampak kuat dalam kehidupan sehari-hari dari media massa. Dari analisis tersebut diperoleh berbagai temuan yang menarik dan orisional yang kemudian banyak mengubah keyakinan orang tentang relasi antara televisi dan khalayaknya, berikut berbagai efek yang menyertainya. Dalam konteks penelitian tersebut, Gerbner mencoba mengaitkan antara dua realita, yaitu dijangkitinya berbagai acara televisi oleh kekerasan yang dipadu padankan dengan meningkatnya angka kejahatan dimasyarakat.
Temuan penelitian ini lebih terkait efek kekerasan di media televisi terhadap persepsi khalayaknya tentang dunia tempat mereka tinggal. Salah satu temua terpenting adalah bahwa penonton televisi dalam kategori berat (heavy viewers) mengembangkan keyakinan yang berlebihan tentang dunia sebagai tempat yang berbahaya dan menakutkan. Sementara kekerasan yang mereka saksikan di televisi menanamkan ketakuatan sosial (paranoia) yang membangkitkan pandangan bahwa lingkungan mereka tidak aman dan tidak ada orang yang dapat dipercaya.
Gerbner berpendapat bahwa media massa menanamkan sikap dan nilai tertentu. Media pun kemudian memelihara dan menyebarkan sikap dan nilai tersebut dalam anggota masyarakat, kemudian mengikatnya bersama-sama pula. Media mempengaruhi penonton dan masing-masing penonton itu meyakininya. Jadi, para pecandu televisi itu akan punya kecenderungan sikap yang sama satu sama lain.
Asumsi Teori
1.      Televisi merupakan media yang unik. Televisi membawa pesan visual dan audio sekaligus, sehingga lebih impresif. Aspek unik lainnya, televisi bersifat persuasif, menyebar dan hampir dimiliki seluruh keluarga. Sebagai contoh Amerika Serikat pada tahun 1950, hanya 9% keluarga yang memiliki pesawat televisi, tetapi pada tahun 1991 jumlahnya telah melonjak menjadi 98,3%. Dari jumlah itu, lebih dari 2/3nya memiliki lebih dari satu pesawat. Pada tahun 2001, lebih dari 99% keluarga Amerika memiliki pesawat televisi. Televisi juga bersifat Assesible, yakni dapat diaakses tanpa memerlukan kemampuan literasi atau keahlian lain. Selain itu, televisi bersifat koheren, karena mempresentasikan pesan dengan dasar yang sama tentang masyarakat melintasi program dan waktu.
2.      Televisi membentuk budaya mainstream. Kita tak bisa menyangkal, tren bidaya di mana pun selalu disebarkan melalui televisi. Orang bergaul, berpakaian, atau memilih selera makan kini dibentuk oleh telebisi. Budaya global yang berlaku di negara mana pun, sejatinya berasal dari isi siaran televisi. Gerbner dan kawan-kawan memperkenalkan faktor-faktor mainstreaming dan  resonance . Mainstreamingdiartikan sebagai kemampuan memantapkan dan menyeragamkan berbagai pandangan di masyarakat tentang dunia di sekitar mereka. Dalam proses ini televisi pertama kali akan mengaburkan (bluting), kemudian membaurkan (blending) dan melenturkan (bending) perbedaa realitas yang beragam menjadi pandagan mainstream tersebut. Sedangkan resonance mengimplikasika pengaruh pesan media dalam persepsi realita dikuatka ketika apa yang di lihat orang di televisi adalah apa yang mereka lihat dalam kehidupan nyata.
3.      Televisi menanmkan asumsi tentang hidup secara luas, ketimbang memberikan opini dan skap yang lebih spesifik. Televisi memang bicara banyak, tetapi menghindari detail. Televisi lebih mengikuti trend ketimbang terfokus pada sebuah isu yang sebetulnya relevan untuk disiarka.
4.      Semakin banyak seseorang menghabiska waktu untuk menonton televis. Semakin kuat kecenderungan orang tersebut menyamakan realitas televisi dengan realitas sosial. Dunia nyata di sekitas penonton dipersamakan dengan dunia rekaan yang disajikan media tersebut (symbolic woeld). Dengan kata lain, penonton mempersepsi apapun yang disajikan televisi sebagai kenyataan sebenarnya. Namun, teori ini tidak menggenerakusasi pengaruh tersebut berlaku untuk semua penonton, melainkan lebih cenderung pada penonton dalam kategori penonton berat. Hasil pengamatan dan pengumpulan data yang dilakukan oleh Gerbner dan kawan-kawan bahkan kemudian menyatakan bahwa heavy viewer mempersepsi dunia ini tempat yang lebih kejam dan menakutkan (the mean and scray woeld) ketimbang kenyataan sebenarnya. Fenomena inilah yang kemudian dikenal sebagai “the mean world syndrome” (sindrom dunia kejam) yang merupakan sebentuk keyakinan bahwa dunia sebuah tempat yang berbahaya, sebuah tempat di mana sulit ditemukan orang yang dapat dipercaya, sebuah tempat di mana banyak orang di sekeliling kita yang dapat membahayakan diri kita sendiri. Untuk itu orang harus berhati-hati menjaga diri. Pembedaan danpembandingan antara heavy dan light viewer di sini dipengaruhi pula oleh latar belakang demografis di antara mereka.
5.      Penonton ringan (light viewers) cenderung menggunakan jenis media dan sumber informasi yang lebih bervariasi (baik komunikasi bermedia maupun personal) sementara penonton berat (heavy viewers) cenderung mengandalkan televisi sebagai sumber informasi mereka.
6.      Perkembangan teknologi baru memperkuat pengaruh televisi
Kritik atas Teori
            Walaupun kultivasi adalah sebuah hasil umum dari tontonan televisi, hal ini bukanlah fenomena universal, disamping pengaruh kecenderungan. Sebenarnya, kelompok-kelompok yang berbeda terpengaruh secara berbeda oleh pengembangan. Interaksi satu orang dengan orang lain mempengaruhi kecendurungan orang tersebut untuk menerima realitas televisi. Sebagai contoh, orang dewasa yang berinteraksi dengan orang tua mereka tentang tontonan televisi tidak terlalu terpengaruh oleh gambaran televisi dari pada orang dewasa yang tidak membicarakan televisi dengan orang tua mereka. Menariknya, orang-orang yang lebih sering menonton tv kabel cenderung menunjukan lebih banyak kecenderungan-kecenderungan lebih untuk menggunakan pandangan yang diberikan oleh televisi dari pada orang yang jarang menontonnya.
            Teori kultivasi memungkinkan adanya gambaran yang lebih rumit daripada model pengaruh kuat atau terbatas yang sederhana. Walaupun pengaruh ; ada variabel-variabel penghalang yang membatasi pengaruh-pengaruh tertentu dari penontonan televisi. Dalam penelitian terbaru tentang semua penelitian teoritis, Paul Power, Robert Kubey, dan Spiro Kiousis menyimpulkan: “alih-alih mempertahankan polarisasi umum antara kelompok-kelompok yang berbeda atau, yang menggelisahkan, pengabaian seutuhnya oleh salah satu kelompok tentang karya orang lain-pembicaraan yang hampir sempurna antara satu sama lain-kami menganjurkan penarikan dari kekuatan dan pengamatan serta teori-teori yang berhubungan dari beragam pendekatan.